Back to all workKembali ke semua karya

Electronics Financing — From Transactions to RelationshipsPembiayaan Elektronik — Dari Transaksi ke Relasi

Turning a per-purchase process into a credit limit, priced by riskMengubah proses per-pembelian menjadi sebuah credit limit, dihargai sesuai risiko

"Underwrite the customer once, not every purchase." — the reframe that started it.

flow diagram

Snapshot

RoleProduct Manager
CompanyPT KB Finansia Multi Finance (KreditPlus)
Timeline2023 – 2025
TeamCross-functional — Product, Risk, Engineering, Compliance
DomainRisk-based product & monetization

TL;DR

Electronics financing was purely transactional: every purchase meant re-submitting data, another CA analysis, and the same flat rate and DP for everyone — while fraud slipped through eyeball checks and low-risk customers were quietly overpriced.

I reframed it from a transaction into a relationship: a tiered Credit Limit (Blue / Gold / Platinum) plus Risk-Based Pricing, on a fraud-hardened acquisition journey. Application fraud dropped sharply and sales more than tripled (IDR 1.5B → 5B over three months).

This case study is about treating pricing and limits as product levers, not finance settings — and what that unlocked.

1. Context

Electronics is a high-frequency, competitive financing category — many competitors had already moved to low or zero down payment. KB Finansia, meanwhile, was underwriting each purchase from scratch and pricing everyone the same.

2. The Problem — "We re-met every customer as a stranger."

"I bought from you last month — why am I filling out the same forms all over again?" — a returning customer, relayed by a dealer

The real problem wasn't "approve more." It was: "stop re-underwriting loyal customers, and price by risk."

3. Discovery — Reading the repayment behavior

4. The Strategic Bet — Build a credit limit, not a faster transaction

The conventional move was to speed up the per-transaction flow. I bet instead on changing the unit of the relationship: underwrite a customer once into a limit, then let them transact within it — converting a stop-start funnel into an ongoing relationship.

5. Prioritization & Trade-offs — Deciding what to build first

Decision 1 — Tiered Credit Limit (Blue / Gold / Platinum). Each class carries its own journey and transaction plafond, set by risk profile and repayment behavior — so repeat customers transact within their limit without re-submitting. Trade-off: this leans on scoring maturity, so tiers were defined conservatively at first.

Decision 2 — Risk-Based Pricing (RBP). Rate and DP scale with risk; low-risk customers get a lower rate and even 0 DP. Pricing became a growth lever aimed squarely at the customers we most wanted to keep.

Decision 3 — Close fraud before scaling. I re-engineered the acquisition journey to introduce EKYC and shut the eyeball-check gap first — because scaling sales on a leaky funnel would have multiplied the fraud, not the profit.

6. Execution — Shipping risk-based product under OJK rules

Built across Risk, Engineering, and Compliance, with fraud and credit-risk indicators monitored closely through rollout. Sequencing fraud-hardening ahead of the growth levers kept the expansion safe.

7. Impact

8. Reflections — What I'd carry forward

Prepared by Hamdan Fauzi — Product Manager. Some figures generalized for company confidentiality. Happy to walk through the full version in conversation.

"Nilai konsumennya sekali, bukan tiap pembelian." — reframe yang memulai semuanya.

flow diagram

Snapshot

PeranProduct Manager
PerusahaanPT KB Finansia Multi Finance (KreditPlus)
Timeline2023 – 2025
TimLintas fungsi — Product, Risk, Engineering, Compliance
DomainProduk berbasis risiko & monetisasi

TL;DR

Pembiayaan elektronik sepenuhnya transaksional: setiap pembelian berarti input data ulang, analisa CA lagi, dan rate serta DP yang sama rata untuk semua — sementara fraud lolos lewat eyeball checking dan konsumen low risk diam-diam kemahalan.

Saya mengubahnya dari transaksi menjadi relasi: Credit Limit berjenjang (Blue / Gold / Platinum) plus Risk-Based Pricing, di atas journey akuisisi yang tahan fraud. Fraud aplikasi turun tajam dan penjualan lebih dari tiga kali lipat (Rp 1,5 miliar → 5 miliar dalam tiga bulan).

Studi kasus ini tentang memperlakukan pricing dan limit sebagai tuas produk, bukan setelan keuangan — dan apa yang dibukanya.

1. Konteks

Elektronik adalah kategori pembiayaan berfrekuensi tinggi dan kompetitif — banyak kompetitor sudah pindah ke DP rendah atau nol. Sementara itu, KB Finansia masih meng-underwrite tiap pembelian dari nol dan menghargai semua orang sama.

2. Masalah — "Kami menyambut setiap konsumen seolah orang asing."

"Saya beli bulan lalu — kenapa sekarang harus isi formulir yang sama lagi?" — konsumen lama, disampaikan lewat dealer

Masalah sebenarnya bukan "setujui lebih banyak." Melainkan: "berhenti meng-underwrite ulang konsumen setia, dan beri harga sesuai risiko."

3. Discovery — Membaca perilaku pembayaran

4. Taruhan Strategis — Bangun credit limit, bukan transaksi yang lebih cepat

Langkah konvensionalnya: mempercepat alur per-transaksi. Saya justru bertaruh pada mengubah unit relasinya: underwrite konsumen sekali ke dalam sebuah limit, lalu biarkan mereka bertransaksi di dalamnya — mengubah funnel stop-start menjadi relasi berkelanjutan.

5. Prioritas & Trade-off — Menentukan apa yang dibangun lebih dulu

Keputusan 1 — Credit Limit berjenjang (Blue / Gold / Platinum). Tiap kelas punya journey dan plafon transaksi sendiri, ditetapkan oleh profil risiko dan perilaku bayar — sehingga konsumen lama bertransaksi dalam limitnya tanpa input ulang. Trade-off: ini bersandar pada kematangan scoring, jadi jenjang awalnya didefinisikan konservatif.

Keputusan 2 — Risk-Based Pricing (RBP). Rate dan DP menyesuaikan risiko; konsumen low risk dapat rate lebih rendah bahkan 0 DP. Pricing menjadi tuas pertumbuhan yang diarahkan tepat ke konsumen yang paling ingin kami pertahankan.

Keputusan 3 — Tutup fraud sebelum menskalakan. Saya mendesain ulang journey akuisisi untuk menghadirkan EKYC dan menutup celah eyeball-check lebih dulu — karena menskalakan penjualan di atas funnel bocor justru melipatgandakan fraud, bukan profit.

6. Eksekusi — Merilis produk berbasis risiko di bawah aturan OJK

Dibangun lintas Risk, Engineering, dan Compliance, dengan indikator fraud dan risiko kredit dipantau ketat sepanjang rollout. Mengurutkan fraud-hardening di depan tuas pertumbuhan menjaga ekspansi tetap aman.

7. Dampak

8. Refleksi — Yang akan saya bawa terus

Disusun oleh Hamdan Fauzi — Product Manager. Sebagian angka digeneralisasi demi kerahasiaan perusahaan. Dengan senang hati menjelaskan versi lengkapnya secara langsung.